Saya
sering berpikir, mengapa negeri ini sulit sekali bergerak cepat? Bukan karena
rakyatnya malas, bukan karena tidak punya sumber daya dan bukan pula karena
kurang orang pintar. Masalahnya cara berpikir feodal yang diam-diam masih hidup
di kepala banyak orang.
Feodalisme
modern, bukan lagi soal kerajaan. Tapi soal pembagian kasta sosial yang tidak
tertulis tapi nyata dalam praktik sehari-hari. Ada yang merasa dirinya kesatria
merasa dilahirkan untuk memimpin, memerintah, menentukan arah. Ada yang
diposisikan sebagai Sudra cukup bekerja, manut, jangan banyak bertanya. Sementara
kaum Brahmana orang-orang yang berpikir, kritis, akademisi, intelektual, ulama,
cendekiawan didorong masuk ke ruang sunyi (dibatasi) silakan berpikir, silakan
menulis, tapi jangan ikut mengubah keadaan dan mengganggu. Akhirnya negeri ini
penuh pagar yang tak terlihat.
Yang
bawah sulit naik, yang atas takut disaingi dan yang pintar dijauhkan dari
pengaruh nyata. Padahal kemajuan lahir dari kolaborasi. Lihat negara-negara
maju, ilmuwan bisa masuk pemerintahan, pengusaha bisa jadi inovator social, anak
buruh bisa memimpin negara dan orang kampung bisa menjadi profesor dunia. Tidak
ada sekat psikologis yang terlalu kaku. Sedangkan di sini, kadang seseorang
bukan dinilai dari gagasannya, tapi dari asal lingkarannya. Siapa bapaknya, dekat
dengan siapa, ikut partai apa, dari kelompok mana dan punya garis sosial apa. Yang
lebih menyedihkan, banyak orang akhirnya menerima keadaan itu sebagai sesuatu
yang normal.
Orang
kecil dianggap terlalu berani kalau kritis. Kalua masih lapar atau miskin
jangan melawan, anak muda kritis dianggap kurang ajar dan bawahan dianggap
melawan kalau punya ide lebih baik. Maka lahirlah budaya diam.
Budaya
ewuh pakewuh, budaya sungkan berlebihan, budaya takut melampaui senior, budaya
takut salah dan budaya takut membuat perubahan. Di titik itulah kreativitas
mati pelan-pelan. Sebab inovasi tidak pernah lahir dari masyarakat yang terlalu
takut pada struktur sosial. Inovasi lahir dari ruang yang cair, dari keberanian
menembus batas dan dari kesempatan yang terbuka.
Negeri
ini sebenarnya tidak kekurangan orang hebat. Yang kurang adalah keberanian
membongkar tembok mental feodal itu sendiri. Karena selama masyarakat masih
percaya bahwa ada kelompok yang ditakdirkan memimpin dan ada kelompok yang
cukup menjadi pengikut, maka demokrasi hanya menjadi formalitas. Yang berubah
hanya baju kekuasaan, cara berpikirnya tetap kerajaan.
Penulis adalah Muhammad Dirga Mahardika - Pelajar

