Tidak lama lagi petik laut Muncar akan kembali dilaksanakan. Setiap tahun Muncar selalu ramai ketika Petik Laut tiba. Jalanan penuh
manusia. Pasar malam berdiri. Musik terdengar dari berbagai penjuru. Nelayan,
pedagang, anak-anak, hingga para perantau yang pulang kampung demi melihat tahapan ritual petik laut dan berkumpul menjadi
satu.
Lalu tibalah acara yang paling ditunggu larung sesaji ke laut.
Bagi masyarakat Muncar, Petik Laut bukan sekadar tontonan. Ia adalah
tradisi yang diwariskan turun-temurun. Bentuk rasa syukur kepada laut yang
selama ini memberi kehidupan. Dari hasil laut dapur mengepul, anak-anak bisa sekolah, rumah
dibangun dan keluarga dibesarkan. Karena itu Petik Laut harus tetap dijaga. Tetapi
ada satu pertanyaan yang muncul.
Setelah Petik Laut selesai, lalu apa?
Tahun berganti tahun, acaranya hampir sama. Pasar malam. Pawai budaya. Membawa
jitek ketengah laut lalu dilempar. Hiburan rakyat. Semua berlangsung meriah.
Namun kehidupan masyarakat masih menghadapi persoalan yang sama.
Harga ikan naik turun. Di tambah masalah sistem bagi hasil yang belum transparan. Antara pemilik kapal dan ABK yang timpang. Nelayan masih bergantung pada musim. Anak-anak muda banyak yang memilih kerja ke kota bahkan ke luar negeri. Produk olahan ikan belum berkembang maksimal. Sementara Muncar sendiri sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa besar.
Kita sering bangga menyebut Muncar sebagai penghasil ikan terbesar di
Jawa Timur. Bahkan salah satu yang terbesar di Indonesia. Tetapi kebanggaan itu
seharusnya tidak berhenti pada cerita. Ia harus diwujudkan menjadi masa depan.
Bayangkan jika Petik Laut tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga
menjadi momentum kebangkitan. Setiap tahun ada satu inovasi baru yang lahir.
Mungkin dimulai dengan Museum Nelayan Muncar. Tempat menyimpan sejarah
perjuangan para nelayan, jenis-jenis kapal, alat tangkap tradisional, hingga
kisah orang-orang nelayan Muncar sejak dulu hingga saat ini.
Lalu lahir pusat produk unggulan berbahan ikan. Abon ikan, kerupuk ikan,
bakso ikan, nugget ikan, sambal ikan, hingga berbagai produk modern yang bisa
masuk supermarket dan pasar ekspor.
Kemudian dibangun sekolah nelayan. Tempat generasi baru belajar
teknologi kelautan, pemasaran digital, pengolahan hasil laut, hingga cara
membangun usaha berbasis perikanan. Tidak berhenti di situ. Petik Laut juga
bisa menjadi ajang dialog bertemunya nelayan, pengusaha, akademisi, pemerintah, dan
investor untuk membicarakan masa depan Muncar.
Karena pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Nelayan
tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pengusaha
juga tidak bisa berdiri sendiri. Semua harus berada dalam satu perahu yang
sama. Perahu bernama Muncar.
Sudah saatnya kita melihat Petik Laut lebih luas dari sekadar ritual
tahunan. Tradisi tetap dijaga. Budaya tetap dirawat. Nilai-nilai leluhur tetap
dihormati. Tetapi bersamaan dengan itu harus lahir gagasan-gagasan baru yang
mampu membawa Muncar naik kelas.
Karena ukuran keberhasilan sebuah perayaan bukan hanya seberapa ramai
pengunjung yang datang. Melainkan seberapa besar manfaat
yang dirasakan masyarakat setelah perayaan itu berakhir.
Petik Laut tidak boleh hanya menjadi serimonial. Ia harus menjadi pintu
menuju masa depan. Masa depan di mana
nelayan semakin sejahtera. Anak muda semakin bangga menjadi bagian dari masyarakat nelayan.
Produk perikanan semakin dikenal dunia. Dan Muncar benar-benar tumbuh menjadi
kawasan industri perikanan modern yang kuat, mandiri, dan membanggakan.
Sebab laut yang kita syukuri hari ini adalah titipan untuk anak cucu yang harus kita jaga dan kita
kembangkan bersama.
Penulis: Satori - Wong Muncar

