Di
lingkungan, konflik sering dianggap sebagai bencana. Ada warga yang sedikit
berbeda pendapat soal iuran, kebijakan, program dan penggunaan fasilitas umum
(Fasum) dll langsung dicap sebagai sumber bencana. Warga yang bersuara kritis
dianggap ancaman atau pembuat masalah sementara yang diam/patuh dinilai sebagai orang baik. Padahal, cara pandang seperti ini terlalu
menyederhanakan realitas sosial.
Dalam
ilmu sosiologi, menurut Lewis A. Coser,
konflik bagian alami dari kehidupan sosial bukan bencana, tetapi mekanisme
sosial yang bisa memperkuat hubungan antarindividu. Coser bahkan menegaskan
bahwa konflik dapat mempererat solidaritas sosial, membuka masalah yang selama
ini tersembunyi dan mendorong perubahan sosial yang lebih sehat.
Mari kita turunkan pandangan
ini ke level paling kecil: Lingkungan RT-RW.
Di lingkungan manapun konflik
sering muncul dari hal-hal sederhana soal transparansi keuangan, perbedaan
pendapat hingga perbedaan pilihan dalam menentukan kebijakan lingkungan.
Konflik ini kerap dianggap mengganggu harmoni. Padahal, di situlah tanda bahwa
warga peduli. Konflik adalah bukti bahwa masih ada kepedulian sosial.
Tanpa
konflik, kehidupan sosial bisa tampak tenang, tetapi sebenarnya stagnan. Tidak
ada kritik, tidak ada evaluasi dan tidak ada perbaikan. Semua terlihat berjalan
aman hanya karena tidak ada yang berani bersuara/protes. Dalam istilah
sosiologi, kondisi ini berbahaya karena menutup ruang koreksi terhadap sistem
yang ada.
Biasanya konflik muncul ketika ada warga yang mempertanyakan penggunaan dana, kebijakan atau sistem keamanan lingkungan dll, itu sebenarnya adalah alarm sosial. Reaksi itu memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Dalam konteks ini, konflik berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang sehat bukan ancaman.
Lebih
jauh lagi, konflik juga bisa memperkuat solidaritas sosial. Ketika warga berpendapat
tentang ABCD, mereka sebenarnya sedang membangun kesadaran dan mencari titik solusi
bukan mencari musuh.
Konflik
akan menjadi perubahan yang baik jika dikelola dengan baik. Dengan cara terbuka,
masuk akal dan fokus mencari solusi. Sebaliknya, konflik yang dibiarkan menjadi
masalah, penuh emosi, penuh kebencian dan tanpa ruang komunikasi/musyawarah
hanya akan merusak tatanan sosial tanpa perubahan yang berarti alias rosak.
Di
sinilah pentingnya kebijaksanaan ketua RT-RW, tokoh masyarakat, tokoh agama dan
warga sebagai katup pengaman (safety valve). Mereka harus mampu menyediakan
ruang dialog/musyawarah yang baik agar konflik tidak merusak, tetapi membangun.
Akhirnya,
kita perlu mengubah cara pandang. Berbeda pendapat itu biasa, asal jangan
berbeda pendapatan. hahahahaha… Konflik bukan musuh yang harus dihindari,
tetapi energi yang harus dikelola.
Karena
pada dasarnya, masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat tanpa konflik,
melainkan masyarakat yang mampu mengelola konflik menjadi jalan menuju
perubahan.
*Penulis Adalah Warga Biasa….
SALAM PERUBAHAN

