Setiap kali Hari
Pendidikan Nasional tiba, kita kembali disuguhi narasi yang nyaris seragam,
pentingnya pendidikan, semangat belajar, dan optimisme masa depan. Namun, di
balik seremoni itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur, apakah
pendidikan kita benar-benar sedang bergerak ke arah yang tepat, atau sekadar
berputar di tempat dengan wajah yang tampak progresif?
Selama ini,
pendidikan kerap dipahami sebagai akumulasi. Semakin banyak ijazah, semakin
tinggi derajat seseorang. Semakin banyak muridnya, semakin dinilai unggul,
semakin megah gedung sekolah, semakin dianggap maju. Semakin tinggi angka
kelulusan, semakin sukses sebuah sistem. Cara pandang ini tampak rasional,
tetapi sesungguhnya menyimpan kekeliruan mendasar, ia menempatkan pendidikan
sebagai hasil, bukan proses.
Akibatnya, kita
menyaksikan paradoks yang sulit diabaikan. Banyak lulusan, tetapi minim nilai
tambah. Banyak sekolah berdiri, tetapi akses belajar masih timpang. Seleksi
masuk yang ketat sering kali lebih menonjolkan siapa yang layak diterima, bukan
bagaimana setiap individu diberdayakan. Pendidikan yang seharusnya inklusif
justru berubah menjadi eksklusif.
Lebih jauh lagi,
pendidikan kita masih terjebak pada dimensi kognitif semata. Menghafal rumus,
menguasai teori, angin dan mengejar nilai tinggi menjadi tujuan utama. Padahal,
pengetahuan tanpa pemaknaan hanya melahirkan kecerdasan yang dangkal. Kita mungkin
berhasil mencetak banyak orang pintar, tetapi belum tentu menghasilkan manusia
yang berkarakter dan bijak.
Di sinilah letak
persoalan yang lebih dalam. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada transfer
informasi, melainkan berlanjut pada transformasi karakter. Ilmu bukan sekadar
untuk diketahui, tetapi untuk dijalani. Ketika pendidikan gagal menjembatani
keduanya, maka lahirlah ironi social, orang yang fasih berbicara tentang nilai,
tetapi gagap dalam praktik, yang mengerti mana benar dan salah, tetapi takut
mengambil sikap.
Selain itu,
pendidikan juga belum sepenuhnya melatih keberanian moral. Dalam banyak kasus,
sistem lebih menekankan kepatuhan daripada daya kritis. Siswa dibiasakan
mencari jawaban yang benar, bukan mempertanyakan apa yang benar. Akibatnya,
lahir generasi yang cakap secara akademik, tetapi rapuh dalam menghadapi
perbedaan dan tekanan sosial.
Padahal, dalam
masyarakat yang semakin kompleks dan beragam, kemampuan berdialog dan menerima
perbedaan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pendidikan yang baik
seharusnya melahirkan individu yang tidak mudah tersinggung, tidak reaktif, dan
mampu menempatkan argumen di atas emosi.
Di sisi lain, kita
juga perlu jujur bahwa pendidikan kerap terjebak pada simbolisme. Gelar
dianggap sebagai legitimasi kepakaran, atribut keagamaan sebagai tanda
kesalehan, dan prestasi akademik sebagai ukuran utama keberhasilan. Namun,
semua itu menjadi hampa ketika tidak diiringi dengan integritas dan
kebermanfaatan.
Maka, mungkin
sudah saatnya kita menggeser cara pandang. Pendidikan bukan soal menjadi yang
terbaik, tetapi tentang kemauan untuk terus belajar. Bukan tentang siapa yang
paling unggul, tetapi siapa yang paling bertumbuh. Bukan tentang penguasaan
ilmu semata, tetapi tentang bagaimana ilmu itu menghadirkan manfaat bagi
sesama.
Momentum
peringatan Hari Pendidikan Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni,
melainkan menjadi ruang refleksi kolektif. Kita perlu berani bertanya, apakah
pendidikan kita sudah memanusiakan manusia? Atau justru tanpa sadar, kita
sedang membentuk generasi yang cerdas secara teknis, tetapi kehilangan arah
secara etika dan moral?
Pada akhirnya,
ukuran pendidikan tidak terletak pada apa yang kita miliki ijazah, gelar, atau
pengetahuan melainkan pada bagaimana kita hidup. Apakah kehadiran kita memberi
nilai tambah bagi lingkungan, atau justru menambah beban persoalan.
Jika pendidikan
adalah jalan, maka pertanyaannya sederhana, apakah jalan itu membawa kita
menjadi manusia yang lebih utuh, atau sekadar membuat kita terlihat lebih
terdidik?
Selamat Hari
Pendidikan Nasional 2026 Kawan….
Penulis: Satori KAHMI
Lumajang

