Makin ke sini, kita sering melihat perubahan dalam cara manusia memaknai relasi. Pertemanan yang dulu terasa hangat dan saling menopang, kini perlahan bergeser menjadi lebih dingin. Bukan karena manusia tiba-tiba kehilangan hati, tapi karena dunia yang kita jalani ikut membentuk cara kita bersikap.
Hari ini, banyak orang memilih fokus pada dirinya sendiri. Ketika ada teman kesulitan, misalnya, respon yang muncul bukan lagi refleks untuk membantu, melainkan pertimbangan: ' Apakah ini akan mengganggu tujuan saya?' Sikap ini sering dibenarkan atas nama ambisi, kemandirian, dan masa depan.
Dalam kacamata Émile Durkheim, ini adalah konsekuensi dari masyarakat modern yang lebih kompleks. Hubungan antar manusia tidak lagi berbasis kedekatan emosional, tapi lebih pada fungsi dan peran. Kita saling terhubung, tapi tidak selalu saling peduli.
Sementara itu, Max Weber melihat dunia modern sebagai dunia yang makin rasional. Semua dihitung bahkan kebaikan pun, kadang ditimbang untung-ruginya. Akibatnya, empati sering kalah oleh efisiensi dan tujuan pribadi.
Kalau sudut pandang Karl Marx, ada konsep alienasi. Dalam sistem ekonomi yang kompetitif, manusia terasing bukan hanya dari pekerjaannya, tapi juga dari sesamanya. Relasi sosial bisa berubah jadi relasi instrumental (alat), bukan lagi relasi kemanusiaan. Teman bisa dilihat sebagai kompetitor".
Lebih jauh lagi, Zygmunt Bauman menyebut kondisi ini sebagai kehidupan yang cair. Relasi menjadi longgar, tidak mengikat, dan mudah dilepas ketika tidak lagi relevan.
Pertemanan bukan lagi tempat bertahan, tapi sekadar persinggahan. Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kompetisi hari ini semakin keras. Banyak orang merasa kalau mereka tidak berlari lebih cepat, mereka akan tertinggal. Dari sini muncul prinsip yang diam-diam kita anggap wajar, yang penting saya selamat dulu, sukses duluan.
Namun, di titik inilah kita perlu bertanya, apakah kesuksesan yang mengorbankan empati masih layak disebut keberhasilan? Fokus pada diri sendiri memang penting. Kita semua punya tanggung jawab atas hidup kita. Tapi ketika individualisme berubah menjadi ketidakpedulian, kita sedang kehilangan sesuatu yang lebih mendasar yaitu rasa kemanusiaan.
Budaya kita sejak lama dikenal dengan gotong royongnya. Tapi hari ini, nilai itu sedang diuji. Bukan oleh siapa pun, tapi oleh cara kita sendiri dalam memaknai hidup dan relasi.
Mungkin kita tidak bisa melawan arus zaman sepenuhnya. Tapi kita harus punya pilihan kecil, tetap peduli, meski dunia mengajarkan untuk cuek.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia berhasil, tapi siapa saja yang tetap ia rangkul dan bantu dalam perjalanannya.
Penulis: Satori Penggiat Sosial
