Kadang kalimat ini terasa pahit, tapi sulit untuk disangkal: lingkungan punya peran besar dalam membentuk siapa kita hari ini.
Manusia pada dasarnya makhluk yang mudah terpengaruh. Cara berpikir, kebiasaan sehari-hari, bahkan standar hidup kita sering kali terbentuk dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Jika setiap hari kita berada di tengah mereka yang gemar menunda, enggan belajar, dan berjalan tanpa arah, lama-kelamaan kondisi itu terasa biasa.
Tanpa disadari, kita ikut menyesuaikan diri. Bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena tidak ada dorongan dari sekitar untuk menjadi lebih baik.
Namun, keadaan akan berbeda saat kita berada di lingkungan yang penuh visi, disiplin, dan semangat bertumbuh. Di situ, kita seperti “dipaksa” untuk naik kelas. Cara berbicara berubah, pola pikir berkembang, dan standar hidup ikut terdongkrak.
Lingkungan ibarat arah angin. Kita mungkin tetap berdiri tegak, tetapi jika terus melawan arah yang keliru, tenaga akan cepat habis.
Maka di titik ini, kesadaran menjadi penting:
siapa yang paling sering kita dengar ?
siapa yang paling banyak mengisi waktu kita, dan apakah mereka membawa kita melangkah maju atau justru menahan kita tetap di tempat atau hanya siap grak lalu jalan di tempat ?
Memilih lingkungan bukan berarti meninggalkan semua orang. Ini soal kebijaksanaan dalam memilah dan memilih mana yang membangun dan mana yang hanya memberi rasa nyaman tanpa pertumbuhan atau kemajuan baik perkataan, pemikiran, dan lain-lain.
Sebab arah hidup tidak selalu dimulai dari diri sendiri saja. Terkadang, yang perlu dibenahi adalah lingkaran di sekitar kita.
Karena pada akhirnya, kita bukan hanya hasil dari usaha pribadi, tetapi juga cerminan dari lingkungan yang kita pilih setiap hari.

