Sebagai penulis, saya memegang satu ideologi yang sederhana namun tajam: “berita yang baik adalah kabar yang buruk.” Bukan karena saya menikmati tragedi, tetapi karena justru di balik kabar buruk itulah kebenaran paling jujur sering bersembunyi.
Kabar buruk menguji nyali jurnalis apakah ia berani mengungkap fakta meski menyinggung kekuasaan, merobek selimut kepalsuan, atau membangunkan publik yang terlanjur nyaman dalam ketidaktahuan. Bagi saya, berita bukanlah hiburan. Berita adalah alarm. Dan alarm tidak pernah berbunyi untuk hal-hal yang menyenangkan.
Kabar buruk yang diangkat dengan jujur justru menjadi cermin bagi negara, teguran bagi pemimpin, dan pembelajaran bagi masyarakat. Ia memaksa sistem untuk berbenah, mendorong kebijakan diperbaiki, dan mengingatkan kita bahwa demokrasi hanya hidup ketika kebenaran berani disuarakan, bahkan ketika tidak nyaman didengar.
Namun saya juga percaya, kabar buruk tidak boleh dijadikan komoditas. Jurnalis yang baik tidak menjual penderitaan; ia mengawal perubahan. Di titik inilah ideologi saya berdiri: kabar buruk menjadi “berita yang baik” hanya ketika ia menyalakan kesadaran, bukan ketika ia sekadar memancing sensasi.
Pada akhirnya, yang saya perjuangkan dalam setiap tulisan hanyalah satu hal hak publik untuk tahu. Jika itu harus dimulai dari kabar buruk, maka biarlah. Sebab dalam dunia yang penuh kepura-puraan, terkadang kebenaran hanya mau muncul melalui luka.
Penulis: Bahrusyofan Hasanudin Mahasiswa STIH JS Lumajang

