![]() |
| Dok:karya Siswi Skodsa |
LUMAJANG — Di balik kesibukannya memimpin sekolah dan menguatkan karakter ratusan siswa SMPN Skodsa, tersimpan kisah hidup penuh haru dari seorang Edy Purwanto, kepala sekolah sederhana kelahiran Randuagung. Sosoknya dikenal tegas namun lembut, ramah namun penuh tanggung jawab. Namun hanya sedikit yang tahu, perjalanan hidupnya tak selalu mudah.
Edy muda lahir dan tumbuh di Randuagung dalam keluarga yang menanamkan nilai kerja keras. Takdir kemudian membawanya menikah dan tinggal di Pasrujambe. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai dua putri dua cahaya kecil yang kini menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan, bekerja, dan memberi teladan bagi banyak orang.
Di tengah kesibukan sebagai pendidik, Edy memilih jalan sunyi yang tak banyak disangka: bertani. Selama lima tahun terakhir, ia menanam durian dan alpukat di lahannya. Awalnya hanya hobi kecil untuk mengisi waktu, pelarian dari penatnya mengurus administrasi sekolah dan memikirkan masa depan ratusan siswa yang ia pimpin.
Namun siapa sangka, dari tanah dan bibit yang ia rawat sepenuh hati, tumbuh harapan baru. Durian dan alpukat yang ia tanam kini mulai menghasilkan. Tidak banyak, tetapi cukup membuatnya bersyukur Alhamdulillah, kata Edy, sambil tersenyum lirih ketika menceritakan bagaimana ia menunggu pohon-pohon itu tumbuh dari setangkai bibit hingga berdiri kokoh.
“Awalnya cuma hobi, Mas… nggak nyangka sekarang bisa bantu keluarga,” ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca.
Bertani membuatnya belajar ulang tentang kesabaran: bagaimana merawat yang kecil hingga menjadi besar, bagaimana memupuk harapan sedikit demi sedikit, sambil tetap memikul amanah sebagai kepala sekolah. Dan di situlah, ia menemukan ketenangan.
Kini, di sela rutinitas sekolah, Edy tetap menyempatkan diri pulang ke kebun. Kadang sekadar melihat pohon yang mulai berbuah, kadang hanya duduk memandangi ladang yang ia garap sendiri sejak lima tahun lalu. Ada rasa haru tiap kali ia pulang membawa hasil panen meski tak seberapa — namun baginya, itu adalah bukti bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati.
Kisah Edy Purwanto bukan hanya tentang seorang kepala sekolah. Ini adalah kisah tentang ayah yang tak lelah berjuang, suami yang bertanggung jawab, dan petani yang merawat harapan dari tanah. Cerita seorang manusia yang memilih tetap tegak meski hidup tak selalu mudah.
Di antara rimbun daun durian dan alpukat itulah, Edy belajar bahwa hidup tak harus mewah untuk bermakna. Cukup bekerja, bersyukur, dan mencintai dengan tulus. Dan dari situlah, ia mengajarkan pada siswanya: bahwa karakter terbaik lahir dari ketabahan, bukan dari kemewahan.
Sebuah perjalanan sunyi yang layak dikenang.

