Perubahan besar selalu lahir dari keberanian membayangkan sesuatu yang belum ada. Imajinasi pintu pertama perubahan. Tanpa imajinasi, desa hanya akan mengulang hari kemarin dengan nama yang berbeda. Sayangnya, banyak desa hari ini hidup tanpa imajinasi, bukan karena kurang potensi, melainkan karena cara berpikir yang berhenti pada rutinitas.
Desa sesungguhnya ruang paling kaya bagi lahirnya imajinasi. Alamnya masih berbicara, tradisinya masih bernapas, relasi sosialnya masih hangat. Tapi kekayaan itu sering tidak terbaca sebagai sumber gagasan. Program desa pun berjalan apa adanya, bangun jalan, direnovasi balai, itu penting, tetapi kerap tanpa visi yang lebih dalam tentang ke mana desa hendak melangkah.
Kita lupa bahwa leluhur desa dahulu bukan hanya petani atau nelayan, tetapi juga pemikir. Mereka membaca musim, menafsir tanda alam, menyusun kearifan lokal, dan merawat harmoni sosial dengan kebijaksanaan yang lahir dari perenungan panjang. Desa dibangun bukan hanya dengan tenaga, tetapi dengan imajinasi kosmologis. Ironisnya, warisan kebijaksanaan itu kini kerap tereduksi menjadi formalitas.
Perencanaan desa RPJMDes, RKPDes, hingga proposal kegiatan sering kali coppy paste, bahasanya mirip, indikatornya seragam, orientasinya menghabiskan anggaran dan desa dipaksa menyesuaikan diri dengan logika pusat, tidak bebas mengolah keunikan potensi dirinya sendiri. Di titik ini, desa kehilangan imajinasinya.
Hilangnya imajinasi di desa hilang pula keberaniannya akhirnya takut salah, takut diperiksa, takut rugi. Akibatnya, potensi desa tidak diperlakukan sebagai sumber inovasi, melainkan sekadar data laporan. Sawah hanya dipandang sebagai angka produksi, sungai dianggap sebagai panjang wilayah, budaya dilihat dsebagai cerita masa lalu. Padahal di sanalah tersimpan kemungkinan ekonomi baru tumbuh. Dan parahnya lagi praktek feodalisme yang terjadi di desa ikut memperkuat keadaan ini. Anak muda dituntut patuh daripada berpikir dan diam daripada bertanya. Imajinasi tidak diberi ruang, padahal dari imajinasilah rasa percaya diri dan daya cipta tumbuh.
Desa membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya pandai pidato dan bangun relasi politik sana-sini, tetapi juga harus mampu menghidupkan imajinasi bersama. Kepala desa, perangkat desa pendamping desa, tokoh masyarakat dan RT-RW perlu duduk bersama, bukan hanya membicarakan program, tetapi membayangkan masa depan desa yang lebih maju dan sejahtera. Desa yang hidup adalah desa yang berani bermimpi.
Penulis: Satori MD KAHMI Lumajang Jawa Timur Indonesia

%20By%20Impostor%20Gelap.jpg)