Setiap daerah memiliki cerita panjang tentang perjuangan dan perubahan. Lumajang adalah salah satunya. Pada usia ke-770 tahun, Kabupaten Lumajang bukan hanya menjadi saksi perjalanan sejarah, tetapi juga simbol ketangguhan masyarakatnya dalam menjaga warisan budaya di tengah arus perubahan zaman. Momentum Hari Jadi Lumajang semestinya tidak berhenti pada perayaan seremonial, melainkan menjadi ruang refleksi kolektif untuk meneguhkan kembali arah pembangunan ekonomi yang berakar pada budaya, kearifan lokal, dan inovasi.
Warisan Budaya sebagai Fondasi Identitas Ekonomi
Lumajang dikenal sebagai wilayah yang kaya akan warisan budaya, baik berupa situs sejarah, tradisi, seni pertunjukan, hingga kuliner yang sarat nilai filosofis. Tradisi Jaran Kencak, keberadaan situs-situs purbakala, serta kehidupan sosial-religius masyarakat lokal merupakan bagian dari modal kultural (cultural capital) yang penting dalam pembangunan daerah.
Dalam perspektif ekonomi budaya, sebagaimana dikemukakan David Throsby, warisan budaya bukan sekadar simbol identitas, tetapi juga aset ekonomi yang dapat menciptakan nilai tambah jika dikelola secara berkelanjutan. Artinya, budaya tidak dipertentangkan dengan ekonomi, melainkan menjadi fondasi ekonomi yang berkelanjutan.
Pisang Lumajang, misalnya, telah lama menjadi komoditas unggulan dengan nilai ekonomi yang tinggi. Namun, sebagian besar pelaku UMKM masih menghadapi persoalan klasik seperti keterbatasan akses permodalan, lemahnya branding, serta minimnya modernisasi alat produksi. Di titik inilah inovasi dan digitalisasi menjadi kunci. Melalui pelatihan kewirausahaan kreatif, penguatan merek lokal, serta pemanfaatan platform digital, produk olahan pisang Lumajang dapat menembus pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas kedaerahannya.
Hal yang sama berlaku pada potensi wisata budaya dan religi. Keberadaan Situs Biting, Situs Selogending, Situs Lempeni, Situs Gondoruso, hingga Candi Mandara Giri Semeru Agung, jika dikemas dalam satu ekosistem wisata terintegrasi dengan kuliner khas seperti sego jagung dan sego kelor, dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Konsep ini sejalan dengan teori creative economy (John Howkins) yang menekankan bahwa kreativitas dan warisan lokal merupakan sumber daya ekonomi utama abad ke-21.
Tantangan dan Arah Pembangunan Ekonomi Lokal
Hingga kini, struktur ekonomi Lumajang masih didominasi sektor pertanian dan peternakan. Sektor ini telah menopang kehidupan masyarakat selama puluhan tahun. Namun ketergantungan berlebih pada sektor primer membuat perekonomian daerah rentan terhadap perubahan iklim, fluktuasi harga.
Karena itu, Lumajang perlu mendorong diversifikasi ekonomi tanpa meninggalkan sektor tradisional. Strateginya bukan mengganti pertanian, melainkan melakukan hilirisasi dan penciptaan nilai tambah. Konsep local economic development (LED) menegaskan bahwa pembangunan ekonomi daerah harus bertumpu pada potensi lokal dengan memperkuat rantai nilai dari hulu ke hilir.
Lumajang harus punya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis komoditas unggulan seperti pisang dan kelapa secara serius. Dengan KEK, industri pengolahan dapat dikembangkan secara terintegrasi—mulai dari produksi, riset, pengemasan, hingga ekspor sehingga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat daya saing daerah.
Digitalisasi dan Peran Strategis Anak Muda
Transformasi ekonomi di era digital adalah keniscayaan. Anak muda Lumajang memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak ekonomi baru berbasis kreativitas dan teknologi. Fenomena tumbuhnya pelaku usaha digital, konten kreator, serta wirausaha rintisan menunjukkan adanya potensi besar yang perlu difasilitasi.
Pemerintah daerah dapat mengambil peran sebagai enabler, bukan semata regulator, dengan memperkuat ekosistem digital melalui penyediaan ruang kolaborasi kreatif (co-working space), pelatihan pemasaran digital, serta inkubasi UMKM berbasis teknologi. Dalam teori entrepreneurial ecosystem, keberhasilan ekonomi lokal sangat ditentukan oleh kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan anak muda.
Digitalisasi juga berperan penting dalam meningkatkan transparansi, efisiensi birokrasi, dan iklim investasi. Ketika ekonomi rakyat bertemu dengan teknologi, kebangkitan ekonomi daerah tidak lagi menjadi wacana, melainkan proses yang nyata dan terukur.
Refleksi dan Harapan
Usia 770 tahun merupakan simbol kematangan sejarah Lumajang. Namun kematangan ini harus dibaca sebagai tantangan untuk melangkah lebih berani dan visioner. Masa depan Lumajang sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, dan anak muda untuk membangun sinergitas yang nyata.
Hari Jadi Lumajang ke-770 semestinya menjadi momentum untuk menegaskan arah pembangunan ekonomi ke depan, ekonomi yang berakar pada budaya, digerakkan oleh inovasi, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat. Dengan kekayaan alam, sejarah, dan budaya yang dimiliki, Lumajang sejatinya memiliki seluruh modal sosial dan ekonomi untuk menjadi pusat kebangkitan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Satori
MD KAHMI Lumajang

