Menarik.. Acara Pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kabupaten
Lumajang yang digelar di kawasan wisata Glagah Arum, Desa Kandang Tepus,
Kecamatan Senduro, Sabtu (13/6/2026), berlangsung meriah. Semangat kader
terlihat kuat. Dalam acara tersebut bahkan muncul pernyataan yang cukup tegas
dari Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, yang secara terbuka
menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan kepemimpinan Bupati Lumajang Indah
Amperawati dan Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma pada periode mendatang.
Pernyataan tersebut tentu menjadi sinyal politik yang kuat. Bagi kader
PDI Perjuangan, dukungan itu dapat dibaca sebagai bentuk kepercayaan partai
terhadap pasangan yang saat ini memimpin Lumajang. Bagi Bunda Indah dan Mas
Yudha, dukungan tersebut bisa menjadi modal politik awal untuk menjaga
stabilitas pemerintahan sekaligus memperkuat posisi mereka di internal koalisi.
Namun jika dilihat dari perspektif politik, pernyataan tersebut
tetap terasa terlalu dini.
Alasannya, politik tidak pernah berjalan dalam garis lurus.
Pilkada bukanlah pertandingan yang hasilnya ditentukan empat tahun
sebelumnya. Politik adalah ruang yang dipenuhi variabel. Ada perubahan
kepemimpinan partai, perubahan kepentingan elite, perubahan konfigurasi
kekuasaan di daerah, hingga perubahan preferensi pemilih yang sulit diprediksi.
Hari ini PDI Perjuangan dan Gerindra berada dalam posisi yang
harmonis. Tetapi apakah kondisi itu akan tetap sama pada 2031?
Tidak ada yang bisa menjamin.
Sejarah politik mengajarkan bahwa kawan politik hari ini bisa menjadi
lawan politik esok hari. Sebaliknya, lawan politik hari ini bisa menjadi kawan
strategis pada momentum berikutnya.
Dalam politik, tidak ada kontrak yang benar-benar abadi selain
kepentingan.
Lima tahun menjelang Pilkada 2031 merupakan waktu yang sangat panjang.
Dalam rentang waktu tersebut kemungkinan akan banyak peristiwa bahkan tsunami politik terjadi. Dinamika politik lumajang bisa berubah. Hubungan antarpartai bisa
mengalami pasang surut. Muncul tokoh baru yang memiliki elektabilitas tinggi.
Bahkan bukan tidak mungkin terjadi pergeseran orientasi politik di tingkat elit.
Kita pernah melihat banyak contoh koalisi besar yang akhirnya pecah di
tengah jalan. Kita juga pernah menyaksikan rival-rival politik yang sebelumnya
saling berhadapan justru bergandengan tangan ketika kepentingan bertemu pada
titik yang sama.
Karena itu, dukungan yang disampaikan oleh Said Abdullah pada
pertengahan 2026 lebih tepat dibaca sebagai sinyal politik dan ekspresi
optimisme partai, bukan sebagai kepastian politik yang sudah final. Tetapi mengapa Said Abdullah menyampaikan pernyataan itu sekarang ada apa ini?
Sebab keputusan politik menjelang Pilkada 2031 nantinya tidak hanya
ditentukan oleh pernyataan seorang pimpinan partai hari ini. Ia akan
dipengaruhi oleh perkembangan politik ke depan, dinamika internal partai, konfigurasi
koalisi, hingga kalkulasi elektoral yang berkembang mendekati masa pencalonan.
Menurut penulis, yang jauh lebih penting bagi partai maupun kepala
daerah saat ini bukanlah membicarakan Pilkada 2031, melainkan memastikan
pemerintahan saat ini berjalan efektif dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat hingga
akhir masa jabatan.
Masyarakat Lumajang sesungguhnya tidak terlalu sibuk memikirkan
konfigurasi koalisi lima tahun mendatang. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana kondisi
jalan bagus, harga kebutuhan pokok stabil, lapangan kerja terbuka banyak, kualitas
layanan Kesehatan top , Pendidikan oke dan kesejahteraan ekonomi keluarga
mereka membaik.
Bagi publik, keberhasilan pemerintahan hari ini jauh lebih penting
daripada deklarasi politik untuk lima tahun yang akan datang.
Dalam konteks itu, ukuran dukungan terhadap Bunda Indah dan Mas Yudha
pada 2031 bukan ditentukan oleh pidato kader atau pernyataan elite partai hari
ini. Ukuran sebenarnya adalah kinerja pemerintahan selama emapat tahun ke depan.
Jika kinerja kepemimpinan dianggap berhasil, dukungan politik akan datang dengan
sendirinya. Bahkan tanpa deklarasi. Sebaliknya, jika
masyarakat merasa tidak puas, maka dukungan partai sebesar apa pun belum tentu
cukup untuk mempertahankan kekuasaan.
Politik Lumajang masih memiliki banyak bab yang belum ditulis. Terlalu
banyak variabel yang belum diketahui untuk membuat kesimpulan hari ini tentang
siapa yang akan didukung dan siapa yang akan bertarung pada 2031.
Karena itu, lebih baik semua pihak memaknai momentum
pelantikan PAC PDI Perjuangan sebagai konsolidasi organisasi dan penguatan
mesin partai, tanpa terburu-buru menganggap peta politik 2031 sudah selesai
digambar.
Sebab dalam politik, yang pasti justru ketidakpastian itu sendiri.
Penulis adalah Satori - 32 Institute
