LUMAJANG - Adakah tempat bagi mereka yang terbuang, yang dicap sebagai sampah generasi, korban dari lumpuhnya keadilan?
Pertanyaan ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jeritan sunyi dari mereka yang tak pernah benar-benar diberi kesempatan.
Ketika keadilan hanya berpihak pada yang kuat, yang berpunya, dan yang bersuara lantang, maka mereka yang lemah perlahan disisihkan. Bukan karena gagal berjuang, tetapi karena sistem menutup pintu sebelum mereka sempat mengetuk. Dalam kondisi seperti itu, kegagalan bukan lagi pilihan pribadi, melainkan vonis sosial.
Mereka disebut generasi gagal yang disebut sebut Gen Z, padahal yang gagal sesungguhnya adalah nurani kolektif kita. Gagal melihat bahwa setiap manusia memiliki potensi, gagal menyadari bahwa ketimpangan melahirkan keputusasaan, dan gagal menghadirkan keadilan yang manusiawi.
Namun harapan seharusnya tidak ikut dibuang. Selalu ada tempat atau setidaknya harus diciptakan bagi mereka yang tersingkir. Tempat itu bernama empati, keberpihakan, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan. Sebab bangsa yang besar bukan diukur dari megahnya gedung kekuasaan, melainkan dari caranya merangkul mereka yang paling tertinggal.
Jika hari ini mereka dianggap sampah, maka tugas kitalah mengubah cara pandang itu. Karena keadilan yang sejati tidak membuang manusia, ia justru memanusiakan manusia.
Seperti korek api yang basah, jatuh dan diguyur hujan. Bukan karena ia tak mampu menyala, tetapi karena api itu terendam. Ia hanya butuh sedikit pertolongan sedikit kehangatan, sedikit keyakinan untuk kembali menyala. Disinilah letak keadilan di pertayakan ?
Penulis: Bahrusyofan Hasanudin Mahasiswa STIH JS (Gen Z.)

