Kepercayaan adalah pondasi tempat manusia berdiri. Di atasnya relasi dibangun, janji diucapkan, dan titipan diberikan. Namun yang sering dilupakan, setiap kepercayaan selalu melahirkan amanah. Dan amanah bukan benda mati ia adalah api.
Selama amanah dijaga, api itu menghangatkan. Ia menerangi jalan, menguatkan hubungan, dan menjaga martabat. Tetapi ketika amanah diingkari, api yang sama berubah menjadi bara. Titipan yang dikhianati tidak pernah benar-benar hilang; ia tinggal, menunggu, lalu membakar pelan-pelan dari dalam diri pengkhianatnya.
Amanah tidak selalu menuntut balasan dari manusia. Ia bekerja dengan caranya sendiri. Hati menjadi gelisah, kepercayaan berubah menjadi beban, dan kebohongan menuntut kebohongan berikutnya dan itu Otomatis. Inilah bentuk pembakaran yang paling kejam: bukan luka yang terlihat, tetapi kehancuran yang terasa.
Kepercayaan yang dikhianati tidak hanya melukai orang lain, tetapi merusak diri sendiri. Sebab saat amanah diingkari, yang runtuh pertama kali bukan hubungan, melainkan integritas. Dari sana, kehancuran merambat perlahan, sunyi, namun pasti.
Api amanah tidak bisa dipadamkan dengan alasan, pembenaran, atau dalih keadaan. Ia hanya bisa diredam dengan tanggung jawab dan kejujuran. Menunaikan amanah mungkin berat, tetapi mengingkarinya jauh lebih menyakitkan dalam jangka panjang.
Maka berhati-hatilah menerima titipan. Sebab setiap titipan membawa api. Jika engkau menjaga amanah, api itu akan menjadi cahaya. Namun jika engkau mengkhianatinya, jangan heran bila suatu saat api itu kembali membakar kepercayaan, nama baik, dan dirimu sendiri.
Penulis: Bahrusyofan Hasanudin Mahasiswa STIH JS

